Merindu Musik Ghazal

musik ghazal melayu riauWARISAN BUDAYA INDONESIA – Apa jadinya bila bait-bait syair Melayu berkolaborasi dengan alat-alat musik seperti syarenggi, sitar, harmonium, dan tabla? Atraksi musik ghazal asal Pulau Penyengat Kepulauan Riau, agaknya bisa menjawab rasa ingin tahu itu. Melalui musik tradisional Melayu ini, rangkaian pesan-pesan moral menyentuh hati yang terselip dalam syair itu jadi tersampaikan kepada hadirat secara khidmat.

Di tempat asalnya yakni Arab dan Persia, ghazal merupakan bentuk puisi berima. Isinya kerap menumpahkan bahasa kalbu perihal asmara, romansa, dan sejenisnya. Penyair sufi ternama bernama Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri atau lebih kondang dikenal sebagai Jalaluddin Rumi, ditengarai sebagai orang pertama yang menulis syair jenis ini pada sekitar abad ke-13.

Melalui perantara para saudagar Arab dan Persia, dalam perkembangannya ghazal lalu menyebar ke berbagai antero negeri termasuk Indonesia khususnya ke wilayah Kepulauan Riau. Kebudayaan pendatang ini memang tak langsung diterima begitu saja oleh masyarakat lokal. Seorang tokoh bernama Lomak misalnya, terlebih dahulu mesti memelayukan bahasa, syair dan alat-alat musiknya sebelum musik ghazal digemari oleh masyarakat.

Upaya itu cukup jitu rupanya. Sebab, selain menjadi sarana dakwah Islam melalui pelantunan Rubaiyat Oemar Khayam, mengutip buku Musik Melayu Ghazal: Selayang Pandang, musik tradisonal ghazal juga berfungsi sebagai sarana untuk mengungkapkan emosi, sarana hiburan, sarana kenikmatan estetis, dan sarana komunikasi baik dengan Tuhan (hablum minallah) maupun dengan manusia (hablum minannas).

Efektivitas itu tampaknya didukung oleh tenaga syair-syair Melayu. Simak misalnya pantun Embun Berderai yang berbunyi, “Tiup api embun berderai, Patah galah di haluan perahu, Niat hati tak mau bercerai, Kuasa Allah siap yang tahu.” Atau coba juga resapi rangkaian kata, “Patah hati terus merajuk, Merajuk sampai ke belukar, Hati panas kembali sejuk, Ibarat burung kembali ke sangkar,” yang dikutip dari pantun berjudul Patah Hati.

Lihat betapa dahsyatnya permainan kata penyair baik dalam Embun Berderai maupun dalam Patah Hati tersebut. Niscaya siapapun yang mendengarnya, pastilah akan segera tersentuh kalbunya. Sayangnya seturut jaman saat ini, tradisi berpantun pun gemuruh musik ghazal kian meredup di Tanah Melayu. Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan, setidaknya begitulah yang dirasakan oleh Djakfar Sirat, pimpinan kelompok Ghazal Sri Melati.

“Bagaimana tidak cemas, saat ini hanya ada dua kelompok ghazal di Kepulauan Riau, yang satunya lagi berada di Pulau Penyengat,” kata Djakfar seperti dilansir Haluankepri.com (13/3/2012). Ia menambahkan fakta tak sedap lainnya, “Cobalah lihat, pemain-pemain ghazal rata-rata sudah berusia lanjut.” Meski cemas sekaligus gemas, ia hanya bisa berharap kiranya ada lebih banyak pihak yang memberikan perhatian pada masalah ini.

Mestinya, memang bukan cuma orang-orang seperi Djakfar Sirat saja yang merasa terpanggil untuk melestarikan musik ghazal ini. Siapapun kita yang mengaku orang Indonesia terutama generasi muda Pulau Penyengat Kepulaun Riau harusnya juga sama-sama merindukan musik ghazal. (naskah dari berbagai sumber; foto dari suaranada.wordpress.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s