Rahasia Aksara Kaganga

huruf kagangaWARISAN BUDAYA INDONESIA – Bagaimana orang Indonesia tempo dulu berkomunikasi? Dalam soal berbahasa khususnya penggunaan aksara, menurut Ulrich Kozok, tulisan-tulisan asli Nusantara dan Asia Tenggara sebetulnya bisa dikelompokan menjadi lima bagian besar. Cikal-bakalnya, kata penulis buku bertajuk Warisan Leluhur: Sastra Lama dan Aksara Batak ini adalah huruf Palawa dari India.

Pertama, aksara Hanacaraka yang berkembang di Jawa, Sunda dan Bali. Kedua, aksara Batak yang dikenal di Mandailing, Toba, Simalungun, Dairi, Pakpak dan Karo. Ketiga, aksara Sulawesi yang digunakan oleh suku Bugis, Makassar, dan Bima. Keempat, aksara Filipina yang menyebar di Bisaya, Tagalog, Tagbanuwa, dan Mangyan. Dan kelima, aksara Kaganga yang dipakai oleh masyarakat di Sumatra bagian selatan khususnya di Bengkulu, Jambi, dan Lampung.

Khusus kelompok aksara terakhir, orang Rejang menyebutnya sebagai Surat Ulu, sedangkan orang Kerinci menamainya aksara Rencong, adapun orang Lampung mengenalnya sebagai Had Lampung. Sebutan Kaganga sendiri dicetusan oleh Mervyn A. Jaspan, antropolog asal Inggris, penulis buku Folk Literature of South Sumatra: Redjang Ka-Ga-Nga Texts, mengacu pada tiga huruf pertama abjad aksara ini yakni: ka, ga, dan nga.

Penamaan itu mengingatkan pada sebutan aksara Hanacaraka yang juga diambil dari lima huruf pertamanya. Cuma lain Kaganga, lain pula Hanacaraka. Sekadar contoh, huruf-huruf Hanacaraka umumnya berupa garis-garis lengkung, sekilas mirip tulisan kaligrafi. Sementara aksara-aksara Kaganga berbentuk garis lurus yang ditarik miring dari kiri bawah ke kanan atas, lalu menyudut sampai 45 derajat. Dari bentuknya, Kaganga terkesan lebih sederhana.

Secara keseluruhan aksara Kaganga memiliki 13 tanda baca dan 27 huruf yang berakhiran bunyi vokal ‘a’. Masing-masing huruf itu adalah: ka, ga, nga, ta, da, na, pa, ba, ma, ca, ja, nya, sa, ra, la, ya, wa, ha, mba, ngga, nda, nja, a, mpa, ngka, nta, dan nca. Tanda baca antara lain berfungsi untuk mengubah bunyi vokal ‘a’ menjadi vokal lainnya, serta menandai perubahan huruf asli menjadi konsonan.

Selain tidak mengenal huruf besar dan kecil, dalam aksara Kaganga juga tidak ada huruf: f, v, q, dan z. Sebagai jalan keluarnya: ‘f’ dan ‘v’ diganti dengan pa; ‘q’ ditukar dengan ka; sementara ‘x’ dan ‘z’ disalin dengan sa. Begitulah salah satu contoh kreativitas orang Rejang jaman dahulu. Begitulah cara mereka melokalkan ilmu dan pengetahuan baru, sesuai dengan keadaan dan kebutuhan mereka sendiri.

Melalui bilah-bilah bambu atau gelumpai, rotan, kulit kayu, tanduk, atau batu mereka menuliskan sekaligus menyebarluaskan pokok-pokok hukum adat, hal-ihwal pengobatan, syair-syair doa, rapalan-rapalan mantra, kisah-kisah kejadian, silsilah kekerabatan atau tembo, cerita-cerita rakyat dan sebagainya. Menurut Sarwit Sarwono, pakar Kaganga, tercatat lebih dari 300 naskah yang ditulis dalam Surat Ulu baik yang ada di dalam maupun di luar negeri.

Dari jumlah itu, mungkin belum separuhnya yang berhasil diterjemahkan. Sisanya, karena berbagai sebab, masih bersembunyi di balik tabir. Jadi rahasia aksara Kaganga belum lagi terungkap seutuhnya. Walhasil riwayat berkomunikasi orang Rejang, Kerinci, Lampung, orang Sumatra dan Indonesia jaman dulu pun belum terkuak selebar-lebarnya. Siapa tertarik mengkajinya? (naskah dari berbagai sumber; foto dari indonesia.travel)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s