Pesona Tapis Lampung

kain tapis lampungWARISAN BUDAYA INDONESIA – Gadis Lampung yang manakah yang pantas diperistri? Sedikitnya ada dua kriteria yang wajib penuhi. Pertama, ia mesti punya sifat dan perilaku yang elok dan terpuji. Kedua, ia juga harus bisa membuat kain tapis. Dua syarat ini, tak bisa ditawar-tawar. Jika tidak, keluarga pria bisa mundur teratur untuk mengajukan pinangan apalagi melanjutkannya ke jenjang pernikahan.

Itulah mengapa dahulu gadis-gadis Lampung sangat serius belajar menyulam tapis, terlebih ketika mereka sudah akil balig dan harus menjalani masa pingitan. Sesuai ketentuan adat ulun Lampung, pada periode ini mereka dilarang meninggalkan rumah tanpa seijin orang tua. Satu-satunya kesempatan ke luar rumah adalah saat cangget atau menari dalam sebuah upacara adat atau sewaktu acara jaga damar dalam acara bujang gadis.

Lalu, bagaimana caranya jika mereka rindu pada kekasihnya? Yang lazim dilakukan, biasanya di malam hari si bujang akan melemparkan sesuatu ke arah kamar si gadis sebagai tanda untuk bertemu. Sejak mengetahui kode itu, si gadis lalu menuju dapur. Tapi, jangan harap bisa bertatap muka. Soalnya ibu, bibi juga nenek si gadis siap-siap pasang mata dan telinga. Walhasil dua sejoli ini cukup melampiaskan kekangenannya dari balik dinding.

Sudah itu kembali lagi ke kamarnya, meneruskan pingitannya. Sekalian mengisi waktu luang, pada saat inilah gadis-gadis Lampung ini mempelajari banyak hal. Bukan saja dalam soal menyiapkan mental sebelum berumah-tangga, tetapi juga membekali dirinya dengan sejumlah keterampilan seperti membuat beragam barang kerajinan berupa  keranjang, tikar, termasuk kain tapis. Pada waktunya, barang-barang ini akan dinilai oleh kerabat calon suaminya.

Sekadar dimaklumi, keluarga perempuan sang jejaka memang sibuk menyelidiki bibit, bebet, dan bobot sang dara sebelum memutuskan untuk melamarnya. Salah satu kriteria yang diselidiki itu adalah kualitas kain tapis yang dibuatnya. Semakin bagus bentuk tapisnya, semakin rumit pola dan ragam hiasannya, serta semakin rapih hasil pekerjaanya, maka semkin berbobot pula calon mempelai perempuan tersebut. Sederhanya, ia pantas disebut menantu idaman.

Tradisi ini sudah dilakukan baik oleh kaun perempuan dari kelompok adat pepadun (pedalaman) maupun saibatin (pesisir) sejak dahulu kala. Khusus sejarah pertenunannya sendiri diperkirakan sudah dikenal sejak abad ke-2 Masehi. Saat itu orang Lampung sudah menenun kain brokat atau dikenal dengan nampan dan pelepai dengan motif hias seperti kait dan kunci, binatang, matahari, bulan, bunga melati, pohon hayat dan bangunan yang berisi roh manusia.

Dalam perkembangannya, terbentuklah jenis tenun baru berbahan kapas, sutra, dan benang emas yang disebut tapis. Supaya lebih indah, kain ini menggunakan pewarna dari daun sirih, buah pinang muda, daun pacar, kulit kayu, kunyit kapur sirih dan lain-lain. Pilihan warna dan juga motif tapis, selanjutnya menentukan jati diri pemakainya. Secara kultural, tapis memang menjadi bagian dari simbol identitas orang Lampung.

Tetapi, saat ini tapis tampaknya sudah menjadi milik siapa saja. Khususnya mereka yang mencintai dan menghargai kain tenun warisan budaya Indonesia asal Lampung ini, yang dulu menjadi salah satu ukuran pesona calon istri. (naskah dari berbagai sumber; foto dari azzuralhi.wordpress.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s