Harga Diri Tikar Bidai

tikar bidaiWARISAN BUDAYA INDONESIA – Di mana saja, fungsi tikar itu tak akan jauh-jauh dari urusan alas: bisa untuk duduk, tidur, atau menyebarkan sesuatu di atasnya. Kalaupun ada bedanya, pastilah tipis saja. Bahannya juga tak jauh-jauh dari anyaman daun pandan, rotan, eceng gondok, atau kulit kayu. Yang modern, paling-paling berbahan kain, karet atau plastik. Walaupun ada bedanya, pastilah sedikit saja.

Tetapi, ketika ‘tikar’ berkawin dengan kata lain, jadi beda juga ceritanya. ‘Gulung tikar’ misalnya, bukan cuma berarti menggulung tikar sungguhan. Istilah itu sebenarnya menggambarkan kehabisan modal atau kebangkrutan yang dialami seseorang. Pun kalimat ‘lepas bantal berganti tikar’, sama sekali bukan bermakna menukar bantal dengan tikar. Maksud dari peribahasa itu adalah menikahi istri atau suami kakak atau adik yang sudah meninggal.

Dalam konteks budaya yang lain seperti tradisi, ritual, atau upacara adat, makna tikar bahkan jauh lebih kompleks. Ketika orang Dayak menggelar prosesi Ngampar Bide dan Gulung Bide misalnya, sejatinya secara kasat mata kegiatannya memang menghamparkan (ngampar) tikar (bide atau bidai) dan menggulung tikar. Cuma prosesi yang dilakukan di Rumah Betang menjelang digelarnya gawai atau hajatan besar adat Dayak ini juga punya dimensi spiritual.

Ngampar Bide sesungguhnya adalah ritual meminta (bepinta) sekaligus memberi tahu (bepadah) kepada Jubata atau Tuhan supaya pesta adat mereka mendapatkan kemudahan dan kelancaran. Acara gelar tikar ini diawali dengan doa bersama (nyangahatn manta atau bapipis), lalu meminta perlindungan pada penjaga Rumah Betang (bapadah kapanyuku atau pantak pantulak), dan diakhiri dengan doa puncak (nyangahatn masak).

Bentuk bide baik dalam Ngampar Bide maupun Gulung Bide atau upacara sesudah berlangsungnya sebuah pesta adat, tak lain adalah sejenis tikar pada umumnya. Bahan dasar seni kriya orang Dayak Bekati ini adalah rotan dan kulit kayu kapoa yang dianyam sedemikian rupa hingga berbentuk lembaran. Ada bide yang polos, tapi ada juga yang kaya motif hias dan berwarna pula. Soal ini tergantung selera saja tampaknya.

Apapun pilihannya, proses pembuatan bidai tak bisa dibilang gampang. Batang rotan terlebih dahulu mesti dibelah-belah, diraut tipis, sekalian dihaluskan. Sesudahnya, jika mau diberi warna hitam misalnya, sehari penuh bilah-bilah tipis batang rotan itu harus direbus bersama daun jengkol, kulit dan daun rambutan, serta serbuk kayu. Supaya warnanya makin pekat, kemudian direndam dalam lumpur selama sepekan.

Proses pemilihan dan pengolahan kulit kayu kapoa juga sama rumitnya. Dalam hal ini orang Dayak menebang kayu berdiameter 10-15 centimeter dan tingginya sekitar 5-7 meter ini pada pangkalnya, sehingga bisa tumbuh tunas baru dan bisa ditebang lagi pada 1-2 tahun kemudian. Sebelum digunakan, terlebih dahulu kulit kayu kapoa terutama bagian dalamnya harus dijemur dan dihaluskan dengan cara memukul-mukulnya menggunakan palu kayu.

Hasil olahan rotan dan kayu kapoa ini kemudian dianyam, dijemur supaya tambah mengkilat, baru bisa dipakai. Seperti umumnya tikar, fungsi asali bidai adalah alas untuk menjemur padi atau alas duduk saja. Tetapi ketika ditempatkan dalam konteks budaya, fungsi itu meluas menjadi identitas, karakter, bisa juga harga diri. Maka jangan coba-coba merampas bidai dari kebudayaan Dayak, khususnya suku Bekati. (naskah dari berbagai sumber; foto dari jualbeliforum.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s