Sisi Lain Ulap Doyo

ulap oyoWARISAN BUDAYA INDONESIA – Asalnya nun jauh dari Afrika Barat sana. Ditemukannya sekitar tahun 1788 lalu. Dengan bermacam cara kemudian menyebar ke berbagai wilayah tropis di seluruh dunia. Hidupnya selalu berkelompok, berlindung di bawah pohon-pohon besar dan rindang yang tumbuh di dalam hutan. Lingkungan yang lembab dan cenderung gelap memang menjadi tempat favoritnya untuk beranak-pinak.

Sekilas rupa fisiknya juga rata-rata saja, hampir serupa dengan pohon pandan. Artikel bertajuk “Fibre Plants” yang dimuat dalam Plant Resources of South-East Asia mendeskripsikan, pemilik nama Curculigo ini merupakan tanaman pendek, tingginnya rata-rata hanya semeter. Akarnya berupa rimpang yang tebal. Daunnya bertangkai, berserat, bentuknya menjorong. Bunganya kuning cerah, berkelompak enam. Buahnya bulat telur, berbulu panjang warna putih atau hijau.

Meskipun bentuknya sederhana, selain menjadi pohon hias, tumbuhan perdu yang punya sekitar 20 spesies ini banyak manfaatnya. Bagian akarnya misalnya, berfungsi untuk mengobati penyakit ginjal, menghilangkan sakit perut, mengusir sakit kepala, dan meningkatkan kejantanan para pria beristri. Lalu buahnya, bisa meredakan panas demam, mengobati batuk, menyembuhkan bengkak, melancarkan aliran air seni, serta bisa meredakan suhu badan.

Sebuah riset ilmiah pada 1990 bahkan menemukan kelebihan tambahan dari tanaman liar ini. Dalam laporan bertitel “Purification and Complete Amino Acid Sequence of a New Type of Sweet Protein Taste-modifying Activity, Curculin” yang dimuat dalam The Journal of Biological Chemistry disebutka, buah Curculigo ternyata mengandung senyawa curculin, satu-satunya protein yang rasanya manis dan bisa memanipulasi rasa apapun menjadi manis.

Daun Curculigo yang dikenal juga dengan tumbuhan bedur (Jawa), congkok (Sunda), nyeyor-nyeyoran (Madura), atau doyo (Dayak), sering digunakan sebagai pembungkus. Sementara serat atau benangnya, bagi orang Dayak Benuaq yang mendiami daerah hulu Sungai Mahakam misalnya, adalah bahan utama pembuatan ulap doyo. Selain untuk keperluan upacara adat, kain tradisional ini juga dipakai dalam aktivitas sehari-hari.

Proses pembuatan kain ini, secara sederhana, dimulai dengan merendam potongan daun doyo untuk mendapatkan seratnya. Sesudahnya diwarnai dengan menggunakan bahan-bahan yang juga alami. Lazimnya warna ulap doyo yang paling dominan adalah merah, hitam dan coklat. Yang merah menggunakan pewarna dari buah glinggam, kayu oter dan buah londo, sementara yang hitam dan coklat memakai pewarna dari kayu uwar.

Seterusnya adalah proses penenunan. Pada tahap ini, ditentukan pula jenis motif sekaligus warnanya. Sekadar informasi, pada awalnya motif kain ini memang berkaitan dengan status sosial. Jadi beda orang, lain pula motif kainnya. Motif jaunt nguku contohnya, hanya boleh dipakai oleh golongan bangsawan (mantiq). Sedangkan orang kebanyakan (marantikaq) cukup dengan motif waniq ngelukng saja.

Ketentuan itu, saat ini, tentu sudah lain ceritanya. Soalnya kain ini juga ternyata sangat digemari oleh banyak orang dari berbagai latar belakang. Seperti asal-usul bahan pokoknya yakni tumbuhan Curculigo, popularitas ulap doyo memang sudah sohor sampai nun jauh ke negeri orang. (naskah dari berbagai sumber; foto dari humas.kutaikartanegara.go.id)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s