Khasiat Kain Sasirangan

kain sasiranganWARISAN BUDAYA INDONESIA – Empu Jatmika, pendiri Kerajaan Negara Dipa, hampir mendekati akhir hayatnya. Maka, segera dipanggilnya Lambung Jaya Wanagiri dan Lambung Mangkurat. Wasiatnya, ia melarang mereka menjadi raja. Bila kelak mangkat, Empu Jatmika memerintahkan kedua putranya ini untuk menemukan raja baru bagi kerajaan yang berpusat di pedalaman Kalimantan Selatan ini.

Demi menunaikan amanat mendiang ayahnya, kedua kakak adik ini melakukan laku lampah mengolah batin. Lambung Jaya Wanagiri yang juga dikenal sebagai Empu Mandastana bertapa di pedalaman Pegunungan Meratus. Sementara adiknya, Lambung Mangkurat, selama 40 hari dan 40 malam bersemedi di atas lanting balarut banyu di sebuah sungai besar, sebelum rakitnya terdampar di daerah Rantau, Kota Bagantung.

Di tempat inilah, Lambung Mangkurat melihat gundukan buih putih bersih. Samar-samar ia mendengar suara seorang perempuan di dalamnya. Naluri Lambung Mangkurat berbisik, pemilik suara di balik buih itu adalah orang yang dicarinya selama ini. Dialah raja baru yang harus ditemukan, seperti diperintahkan oleh Empu Jatmika. Karenanya ia berusaha untuk berkomunikasi dan meminta perempuan itu menampakan wujud aslinya.

Gayung pun bersambut, meski dengan sejumlah syarat. Antara lain, Lambung Mangkurat mesti membangun sebuah istana megah dalam tempo sehari saja, serta menyediakan sebuah perahu yang indah. Syarat lainnya, sosok di balik buih itu juga meminta sehelai kain yang dirajut khusus oleh 40 orang gadis. Kain itu harus berhias motif padiwaringin dan diberi warna. Seperti halnya istana dan perahu, kain ini juga wajib rampung dalam sehari.

Setelah seluruh permintaannya dikabulkan, perempuan itu pun muncul ke permukaan air dan memperkenalkan dirinya sebagai Puteri Junjung Buih. Seterusnya ia dinobatkan menjadi Ratu di Kerajaan Negara Dipa dan menikah dengan Pangeran Suryanata dari Kerajaan Majapahit. Sementara Lambung Mangkurat sendiri diangkat menjadi seorang mangkubumi. Dan kain yang diminta oleh Ratu Junjung Buih itu disebut sebagai langgundi atau tenun berwarna kuning.

Sejak saat itulah langgundi menjadi busana khusus para kerabat kerajaan. Di pihak lain, sebagai tanda hormat, rakyat kebanyakan tak berani memakai kain sejenis itu dalam aktivitasnya sehari-hari. Cuma, versi cerita orang Banjar, para arwah leluhur setiap satu, tiga, lima, dan tujuh tahun akan mendatangkan penyakit pingitan kepada mereka. Untuk menghilangkan gangguan itu, mereka diwajibkan mengenakan kain langgundi.

Akhirnya mereka membuat kain hampir serupa dengan langgundi yang disebut sasirangan. Tapi kain yang dibuat dengan teknik tusuk jelujur atau di-sirang ini, punya warna, motif, dan bentuk sesuai dengan jenis penyakit. Sarung sasirangan misalnya, adalah obat demam atau gatal-gatal. Jika bebat sasirangan untuk membasmi penyakit perut, maka selendang sasirangan obat penyakit migrain. Adapun ikat kepala sasirangan dapat menyembuhkan aneka sakit kepala.

Di jaman modern seperti sekarang, kain pamintan yang dibuat oleh rakyat Empu Jatmika sejak dulu kala ini, ternyata makin diminati oleh banyak kalangan termasuk yang datang dari negeri seberang. Khasiat sasirangan pun bertambah satu, yakni bisa memperindah penampilan. (naskah dari berbagai sumber; foto dari indonesia.travel)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s