Tembang Suci Karungut

karungutWARISAN BUDAYA INDONESIA ā€“ Ternyata nenek moyang orang Dayak itu asalnya dari langit ke tujuh. Ketika turun ke bumi, sambil diiringi nyanyian syahdu, mereka menggunakan sebuah wahana berupa wadah sejenis ancak (palangka) yang terbuat dari emas atau logam mulia (bulau). Begitulah mitosnya ketetapan Ranying Hatalla yang bersemayam di langit tertinggi, sewaktu menciptakan leluhur salah satu suku asli di Pulau Borneo ini.

Masih versi cerita rakyat, sejak peristiwa itu pula orang Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah mulai mengenal cara berkomunikasi secara lisan dalam bahasa sangiang. August Harderland dalam Versuch einer Grammatik der Dajacksen Sprache, menjelaskan bahwa bahasa sangiang atau bahasa suci itu sangat puitis, penuh penggambaran makna, dan berkaitan dengan ritme atau irama. Sederhananya, bahasa sangiang itu bernilai sastra sangat tinggi.

Karakteristik bahasa Dayak kuno yang melodius ini lalu melahirkan bait-bait pantun atau syair-syair penuh tutur, nasihat, petuah, teguran, dongeng dan sejenisnya yang juga enak didengar. Apalagi ketika ditambahi instrumen musik tradisional macam kecapi bersenar dua atau tiga, katambung, rebab, gong, seruling dan lainnya. Dalam perkembangannya, kreasi ini akhirnya melahirkan sebuah seni berdendang yang populer dikenal dengan nama karungut.

Secara bahasa, karungut searti dengan tembang, macapat, dandang gula, mijil, pangkur, atau asmarandana yang dikenal luas di Jawa. Sementara menilik komposisi bentuknya, mirip dengan pantun. Jadi sederhananya, karungut adalah pantun yang ditembangkan. Adapun fungsinya, semula digunakan sebagai media pengajaran, misalnya ketika seorang guru atau dukun (balian) mengarungut para murid-muridnya.

Dalam perkembangannya, fungsi seni tembang ini makin meluas ke berbagai bidang kehidupan. Selain menjadi media pendidikan, kesenian ini juga menjadi hiburan yang mengasyikkan. Karungut sering dilantunkan saat bekerja di rumah atau di ladang, ketika gotong royong, atau sewaktu pesta panen dan pesta perkawinan. Karungut kerap ditemui pula pada hajatan perkawinan, khitanan, penyambutan tamu penting, kegiatan kampanye dan lain-lain.

Sesuai temanya, secara umum tembang karangut dapat dibedakan menjadi tiga kelompok besar. Pertama yang berturur soal cinta dan kasih sayang. Kedua yang berkisah tentang dongeng, legenda, atau pemujaan terhadap seorang tokoh, suatu benda, atau tempat tertentu. Ketiga yang berisi nasihat, petuah, dan sejenisnya. Ketiga tema ini, bisa saja bersifat spontan atau sebaliknya.

Pada karungut spontan, pengarungut tidak membuat konsep sebelum mengarungut. Ia langsung menuangkan pikiran dan perasaannya secara spontan. Sedangkan karungut tak spontan dibuat dengan gagasan yang sudah disiapkan terlebih dahulu. Jenis yang disebutkan belakangan ini, bisa juga diartikan sebagai karungut yang dilantunkan oleh orang lain, bukan oleh penciptanya sendiri.

Tetapi, apapun jenisnya, tembang Dayak Ngaju ini memang bergaya bahasa sangat artistik dan sarat ajar. Nyonya Bunbun misalnya menulis: Tiruh anak yoh busu tempu; Kantuk anak nah masi aku; Aku anak bagawi kejau; Ikau melai barapi manjuhu. Karungut bertajuk Tiruh Anak ini lebih kurang berarti: Tidurlah anak ku tersayang; Mengantuklah anak, kasihani aku; Aku akan bekerja jauh; Engkau tinggal menanak nasi dan memasak. Indah bukan? (naskah dari berbagai sumber; foto dari borneonews.co.id)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s