Musim Tari Maengket

tari maengketWARISAN BUDAYA INDONESIA – Dulu namanya Malesung, lalu berganti menjadi Minaesa. Karena mina (telah terjadi) esa (persatuan), salah satu sebabnya adalah lantaran seketurunan dari Toar Lumimuut, maka nihillah perbedaan di antara subetnik Tontemboan, Tombulu, Tonsea, Tondano, Tonsawang, Ponosakan, Pasan, dan Bantik. Seterusnya, karena proses bahasa, Minaesa berubah lagi menjadi Minahasa.

Suku terbesar di Sulawesi Utara ini, dulu menggantungkan kehidupannya dari bercocok tanam, di ladang atau di sawah. Demi meringankan beban pekerjaan sesamanya, mereka mengembangkan sebuah sistem kerjasama yang berpijak pada prinsip ringan sama dijinjing berat sama dipikul. Tradisi mapalus ini sebetulnya bisa dilakukan dalam segala bentuk kegiatan. Cuma gotong royong ala Minahasa ini ditengarai lahir dari aktivitas bertani atau berkebun.

Bunyi tambur, tetengkoran, dan gong lazimnya menjadi penanda akan dimulainya mapalus. Para warga yang mendengarnya, bergegas menuju ke tempat yang telah ditentukan. Sewaktu bekerja, sekadar mengusir penat, beberapa di antara mereka bernyanyi riang berbalas-balasan. Sambil bepegangan tangan dalam formasi tertentu, beberapa yang lainnya bergerak lincah ke kiri ke kanan, ke depan juga ke belakang. Lagaknya bak penari sungguhan saja.

Dalam perkembangannya, kegiatan selingan saat mapalus itu rupanya menjadi cikal-bakal tari maengket yang dikenal sampai sekarang. Seperti sebutannya, gerak dasar tarian ini adalah mengangkat tumit kaki naik turun (engket). Tetapi maengket bukan cuma seni gerak, sebab di dalamnya juga terdapat unsur seni suara. Perpaduan keduanya bukan hanya indah secara artistik, tapi juga kontemplatif secara spiritual.

Sekadar dimaklumi, tari maengket memang bagian penting dari ritual orang Minahasa ketika memasuki musim manempo (Tontemboan), mangapu ( Tonsea), atau masambo (Tondano). Pada saat musim petik padi ini, tarian ini diperlakukan sebagai sumempung atau media untuk mengundang roh para leluhur dan memuji Opo Empung (Tuhan); serta mangalei atau memohon berkah dan perlindungan kepada para dewa.

Upacara petik padi sendiri berlangsung selama 28 berhari-hari berturut-turut, dan puncaknya terjadi pada saat purnama raya. Ada tiga babak tarian maengket yang dimainkan sepanjang prosesi ini. Pertama, tujuh hari menjelang bulan purnama, masyarakat menggelar maengket moawey kamberu sebagai tanda syukur atas hasil panen yang melimpah-ruah. Tarian ini dipimpin seorang wanita yang disebut walian in uma.

Malam ke-28 boleh jadi yang paling ditunggu-tunggu khususnya oleh para remaja. Selain esoknya akan panen raya, pada malam inilah maengket lalayaan sebagai tarian yang melambangkan pergaulan muda-mudi dipertontonkan. Terakhir, tujuh hari setelah bulan purnama, dipentaskanlah tari maengket marambak yang menyimbolkan semangat gotong royong masyarakat dalam membangun rumah bagi keluarga baru.

Dulu, begitulah cara orang Malesung, Minaesa atau Minahasa memperlakukan tari maengket. Sekarang, sesuai perputaran roda zaman, tentu saja ada perubahan di sana-sini. Walaupun begitu, seni mengangkat tumit kaki ini tetap saja terlihat atraktif dan membuai mata.(naskah dari berbagai sumber; foto dari sulutpromo.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s