Perahu Cinta Sawerigading

kapal-pinisiWARISAN BUDAYA INDONESIA – We Cudai memang bukan perempuan biasa. Gadis Tiongkok ini kulitnya bening sekuning langsat. Matanya sipit seiris tipis. Budinya sopan, tuturnya santun. Menilik garis keturunannya, ia berdarah biru pula. Tak ayal bila pesonanya terkabarkan ke mana-mana. Namanya terceritakan ke segala penjuru mata angin. Ia menjadi pusaran perhatian para bujang dari berbagai antero negeri.

Sawerigading adalah salah satu di antara para jejaka yang tergila-gila kepada We Cudai. Ia tak ambil peduli perempuan idamannya itu berada nun jauh di seberang lautan. Ia juga tak ambil pusing kembang pujaannya itu dirubung berbilang kumbang. Asmaranya sudah tak bisa disembunyikan, cintanya sudah tak dapat dirahasiakan. Pangeran dari Kerajaan Luwu di Sulawesi Selatan ini sudah bulat hati untuk mempersuntingnya

Demi niat itulah, salah satu episode naskah I La Galigo menceritakan, Sawerigading rela keluar masuk hutan mencari kayu terbaik. Dalam perjalanannya ia mendapati sebatang pohon yang beda dibanding pohon-pohon lainnya. Selain lingkar batangnya yang amat besar, tingginya bahkan sampai menembus awan. Jangan lagi kayunya, saking kerasnya kulitnya saja tidak bisa dirobek oleh kapak atau parang biasa.

Supaya pohon itu bisa ditebang, Sawerigading melakukan ritual khusus. Selesai berdoa, sebilah kapak emas jatuh dari langit. Dengan bantuan kapak inilah pohon welengreng yang tadinya angkuh berdiri itu, terjerembab ke tanah dan meluncur ke lautan hingga tenggelam sampai ke dasar. Dari pohon dewata itu, para makhluk penghuni samudra kemudian membuat sebuah perahu berukuran besar dan beberapa perahu lain yang lebih kecil.

Perahu inilah yang digunakan oleh Sawerigading dan para pengawalnya untuk menemui sekaligus memperistri We Cudai. Setelah bertahun-tahun tinggal di Tiongkok, Sawerigading didera rasa rindu pada tanah airnya. Meskipun pernah bersumpah tak akan pulang, dengan perahu dari pohon welengreng yang dulu dipakainya, ia kembali berlayar menerjang ombak menuju kampung halamannya.

Perjalanan pulang kampung yang semula menyenangkan, dikacaukan oleh sebuah peristiwa yang tak diharapkan. Di tengah-tengah samudra, tiba-tiba angin bertiup lebih kencang. Kemudian ombak berteriak-teriak, dan datanglah gelombang sangat besar. Beruntung, Sawerigading dan We Cudai bisa selamat. Dewa Langit membawa keduanya ke istana Kerajaan Luwu. Padahal perahu perahu yang ditumpanginya pecah berkeping-keping diamuk badai.

Beberapa kepingan badan perahu itu terdampar di Dusun Ara, Bulukumba. Sementara tali, tiang, dan layarnya hanyut sampai ke Tanjung Bira. Adapun muatan perahunya banyak ditemukan di daerah Lemo Lemo. Entah kebetulan atau tidak, orang Ara lalu menjadi para pembuat perahu yang terampil, orang Bira menjadi para nakoda yang cekatan, dan orang Lemo Lemo menjadi pedagang yang termasyhur.

Masyarakat dari ketiga tempat itu menjadi penerus tradisi pembuatan perahu cinta yang dibuat oleh Sawerigading pada sekitar abad ke-14 lalu. Perahu tanpa paku dan umumnya punya dua tiang layar lebar ini, seterusnya menjadi alat transportasi utama para pelaut Bugis-Makassar. Inilah penggalan cerita tentang perahu Pinisi yang dikenal sampai sekarang. (naskah dari berbagai sumber; foto dari indonesiaexplorer.net)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s