Adat Orang Langit

kalosaraWARISAN BUDAYA INDONESIA – Wabah penyakit mematikan, pada sebuah masa, menghantui tanah Konawe dan Mekongga. Sebab tak kuasa lagi mengatasi musibah itu, para tetua adat minta bantuan pihak kerajaan. Raja Luwu kemudian mengutus Watandiabe ke Konawe dan Larumbalangi ke Mekongga. Dengan segenap kemampuannya, keduanya berhasil memulihkan keadaan seperti sedia kala.

Watandiabe yang juga dikenal sebagai Wekoila, menurut cerita rakyat yang berkembang, selanjutnya mendapat tugas baru untuk menyatukan kerajaan-kerajaan kecil yang ada di sekitar Konawe. Amanah ini bukan perkara sepele sebenarnya. Namun, sekali lagi, ia mampu menunaikan tugas itu dengan sangat baik. Atas jasa-jasanya Watandiabe akhirnya ditabalkan menjadi Mokole Konawe. Pengukuhannya sebagai raja ditandai dengan kalosara, simbol hukum adat orang Tolaki.

Secara harfiah kalo punya tiga makna: suatu benda berbentuk lingkaran; cara mengikat yang melingkar; dan pertemuan bersama sambil duduk membentuk lingkaran. Sebagai benda melingkar, kalo biasanya dibuat dari rotan, bisa juga emas, besi, perak, benang, kain putih, akar, daun pandan, bambu dan sebagainya. Lain bahannya, lain pula sebutan dan kegunaannya. Misalnya, ada kalo eno-eno (emas), kalo kale-kale (benang), atau kalo parado (kulit kerbau).

Kalosara sendiri terdiri dari tiga bagian: lilitan tiga batang rotan yang melingkar; lembaran kain putih; dan siwoleuwa atau anyaman daun pandan berbentuk persegi empat. Yang unik, jika berdiri sendiri setiap bagian itu tak ubahnya benda lain pada galibnya. Namun lain ceritanya, bila di atas siwoleuwa digelar kain putih sebagai alas untuk meletakkan kalo berbahan lilitan rotan. Tiga kesatuan benda profan itu sudah berubah sifat sekaligus fungsinya.

Dalam konteks kebudayaan Tolaki, kalosara memang punya posisi paling penting. Ia menjadi landasan falsafah hidup mereka yang terangkum dalam sejenis sumpah: medulu mbenao (satu jiwa); medulu mbonaa (satu pendirian); dan medulu mboehe (satu cita-cita). Bagi orang Tolaki yang menisbatkan dirinya sebagai Tolahianga (orang yang datang dari langit), kalosara juga merupakan rujukan dari segala hukum adat, yang secara umum terdiri dari lima kelompok besar.

Pertama, sara wonua (hukum adat dalam pemerintahan). Kedua, sara mbedulu (hukum adat dalam hubungan kekeluargaan). Ketiga, sara mbe’ombu (hukum adat dalam aktivitas keagamaan). Keempat, sara mandarahia (hukum adat dalam pekerjaan dengan keahlian dan keterampilan). Kelima, sara monda’u, mombopaho, mombakani, melambu, dumahu, meoti-oti, (hukum adat dalam berladang, berkebun, beternak, berburu, dan menangkap ikan).

Nyaris tak ada ruang hidup orang Tolaki yang tak diatur oleh kalosara. Hampir tak ada pula masalah yang tak dapat diselesaikan lewat kalosara. Prinsipnya, baik atau buruknya seseorang memang sangat tergantung pada sesuai atau tidaknya sikap dan perilaku orang dimaksud dengan norma-norma adat yang berlaku. Dan bagi orang Tolaki, melestarikan kalosara searti dengan berusaha menjadi orang baik serta menjadikan kehidupan yang lebih aman dan damai.

Inae kosara iee nggopinesara. Inae lia sara iee nggopinekasara. Siapa yang tahu adat, ia akan dihargai dan dihormati. Sebaliknya, siapa yang melanggar adat, ia akan dikasari atau mendapat hukuman. Begitulah wanti-wanti “orang langit”. (naskah dari berbagai sumber; foto dari remahnasi.wordpress.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s