Tarian Suku Kulawi

WARISAN BUDAYA INDONESIA – Langkah kaki petani yang sedang berburu itu terhenti begitu saja, ketika ia dikejutkan oleh kegaduhan yang terjadi di tengah rimba belantara yang biasanya diam. Meski sedikit takut, rasa penasarannya tak mampu dihentikannya. Maka sambil mengendap-ngendap, didekatinya sumber keriuhan itu. Dari balik semak-semak, pandangannya tertuju pada sekawanan rusa yang sedang bertingkah.

Beberapa rusa melenguh keras-keras bersahut-sahutan. Yang lainnya berjingkrak-jingkrak, menghentak-hentakan kakinya ke tanah. Sekilas gerombolan rusa itu seperti sedang menembangkan nyanyian alam nan melodius sambil bergerak lincah nan ritmis. Sejak menonton pentas tarian itu, ketakutan paman petani pelan-pelan mulai mereda. Diam-diam ia malah sangat menikmatinya.

Sesudahnya ia bahkan mengadopsinya menjadi sebuah permainan khas masyarakat suku Kulawi di Sulawesi Tengah. Tak diketahui pasti siapa gerangan petani itu. Tetapi, versi cerita rakyat setempat menyebutkan, memang begitulah sebermula kisah tari raego yang dikenal sampai sekarang. Tarian tanpa musik pengiring ini dimainkan oleh berpasang-pasang pria-wanita yang membentuk formasi lingkaran.

Tarian akan dimulai setelah totua ngata mencabut guma dari pinggangnya. Sambil merapalkan doa, tetua adat lalu menempelkan parang itu ke atas kepala salah satu penari. Tangan-tangan para penari, selanjutnya saling bertaut sedemikian rupa. Seterusnya, perlahan-lahan kaki-kaki mereka mulai bergerak: maju dan mundur. Gerakan itu makin bertenaga seiring para penari itu melagukan syair-syair pujian sambung-menyambung.

Pada bagian tertentu, sementara penari wanita menekuk lutunya, para penari pria begitu semangatnya menghentak-hentakkan kaki mereka ke bumi. Selain untuk membangunkan benih-benih tanaman, gerakan ini adalah simbol permohonan kepada tupu tana  kiranya melimpahkan keberkahan berupa kesuburan dan hasil tanam yang melimpah-ruah. Tari raego memang menjadi bagian penting dalam upacara adat menjelang dan sesudah musim panen (vunja ada mpae).

Di luar itu, raego juga kerap dimainkan saat berlangsungnya seremoni pernikahan (halia todea), upacara kematian (powutu), ritual tolak bala (potapahi tana), juga pesta peresmian rumah adat (pompede lobo). Tarian yang sudah berkembang jauh sebelum agama Islam dan Kristen mulai masuk dan menyebar di Kulawi ini tampaknya tergolong sakral. Tak heran bila raego hanya dimainkan pada acara-acara tertentu saja.

Karena alasan tertentu, beberapa saat tarian ini sempat dipertentangkan dan kehilangan pamor. Beruntung beberapa tokoh adat dan pemuka agama akhirnya menemukan kata sepakat: demi menjaga dan melestarikan warisan leluhur, mulai 1952 tarian yang terinspirasi tingkah polah sekawanan rusa hutan ini boleh dihidupkan kembali. (naskah dari berbagai sumber; foto dari bacanisa.wordpress.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s