Atraksi Kuda Menari

saiyyang pattuqduqWARISAN BUDAYA INDONESIA – Kanna Pattang Daetta Tommuane bersama permaisurinya, satu ketika hendak bermain dengan salah seorang putrinya. Lalu Maraqdia IV Kerajaan Balanipa ini mengajak buah hatinya menunggang kuda. Sambil mengikuti ketukan bebunyian dari istal yang dipukul-pukul, ia melantunkan kalindaqdaq atau pantun khas Mandar, Sulawesi Barat. Maka acara mengasuh anak ini jadilah tambah seronok.

Terlebih sang kuda tunggangan itu juga ikut berjingkrak-jingkrak, berlenggak-lenggok selaras dengan tempo konser musik sederhana itu. Putri raja yang masih belia terkagum-kagum menyaksikan atraksi tersebut. “Belajarlah mengaji nak,” kata Raja Kanna. “Kalau engkau tammaq mangaji aku akan naikkan kamu ke atas saiyyang pattuqduq, dan akan mengarakmu keliling kampung,” ujarnya ketika itu.

Sejak saat itulah, menurut salah satu versi cerita rakyat ini, saiyyang pattuqduq menjadi salah satu bagian penting dalam mappatammaq atau prosesi khataman mengaji Al-Quran. Sesuai makna leksikal dalam bahasa Mandar, gelaran intinya adalah saiyyang alias kuda yang pattuqduq atau menari. Kuda yang ditunggangi para totammaq ini memang bukan kuda sembarang, tapi sudah terlatih menari mengikuti irama.

Prosesi mappatammaq dimulai pagi hari di sebuah masjid, didahului dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran dan berzikir. Kemudian dilakukan marratassi baca oleh totammaq yang diawasi langsung oleh para gurunya. Dalam acara ini, biasanya disajikan beberapa buwaken (telur rebus), atupe nabi (ketupat segi enam) yang dihiasi dan ditancapkan di batang pisang, dan kue-kue tradisional seperti sokkol yang terbuat dari beras ketan dicampur santan.

Selepas Dzuhur, totammaq sudah siap duduk di atas saiyyang yang didandani dengan aksesoris warna-warni. Sesudah mengelilingi masjid tiga putaran, arak-arakan pun dimulai. Di antara bunyi rebana yang susul-menyusul, di antara tembang shalawatan yang menyentuh hati, atau di antara harmonisnya rangkaian sampiran dan isi bait-bait kalindaqdaq, saiyyang langsung unjuk kebolehan.

Hebatnya atraksi kuda menari ini bukan cuma sekali, tetapi dilakukan hampir di sepanjang jalan yang dilewati. Seolah-olah sang saiyyang maklum bahwa seluruh warga kampung termasuk yang datang dari daerah lain, sudah berbaris berjejer-jejer menunggu atraksinya di pinggir jalan. Saiyyang pattuqduq memang dimaksudkan bagi totammaq, namun kemeriahan dan kegembiraannya sesungguhnya menjadi milik dan dirasakan oleh siapa saja.

Selain itu, dalam perkembangannya, saiyyang pattuqduq tak cuma menjadi bagian dari mappatammaq. Pertunjukan si kuda jingkrak ini juga bisa diselenggarakan dalam rangka penyambutan tamu-tamu terhormat, demi melaksanakan niat atau nadzar khusus, dan bisa pula sekadar hiburan yang dipertontokan pada khalayak. Kendati demikian, dalam konteks apapun, saiyyang pattuqduq tetap saja kental nuansa budaya-relijinya.

Begitulah salah satu ciri kuat warisan budaya asal tanah Mandar, yang secara historis merupakan gabungan dari kerajaan yang pernah ada di barat Sulawesi. Masing-masing, tujuh kerajaan di wilayah pantai atau Pitu Baqbana Binanga dan tujuh kerajaan di wilayah pegunungan atau Pitu Ulunna Salu. Saiyyang pattuqduq tumbuh dan berkembang di Kerajaan Balanipa, yang menjadi “bapak” dari 14 kerajaan yang meleburkan diri itu. (naskah dari berbagai sumber; foto dari abdillahmandar.wordpress.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s