Seni Mengintip Pengantin

tari molapi sarondeWARISAN BUDAYA INDONESIA – Detak jantung para pemuda Gorontalo pada malam mopotilandahu pasti jauh lebih kencang. Sebetulnya kondisi lahir dan batin mereka sehat-sehat saja. Yang mereka lakukan, juga lazim dikerjakan oleh para bujang lain di manapun. Bukankah acara pertunangan adalah peristiwa biasa yang harus dilalui oleh setiap jejaka dan dara yang hendak mengikat janji suci pernikahan?

Benar, secara umum prosesi pernikahannya nyaris sama saja. Tetapi upacara lenggota lo nikah khas Bumi Serambi Madinah memang sangat istimewa, karena mesti sesuai dengan kaidah adat dan selaras dengan syariat Islam. Sebuah pernikahan, secara bertahap, dimulai dari proses mopoloduwo rahasia atau kunjungan keluarga pria ke rumah calon pengantin perempuan. Jika menemukan kecocokan, sesudahnya diadakan tolobalango.

Para pemangku adat, para tetua, dan keluarga besar kedua mempelai turut hadir dalam acara pinangan ini. Melalui pantun-pantun yang indah, Lundthu Dulango Layio (juru bicara keluarga pria) menyampikan maksudnya kepada Lundthu Dulango Walato (juru bicara keluarga perempuan). Seterusnya sepaket mahar yang telah dijanjikan dikemas sedemikian rupa dalam sebuah kendaraan yang dihias menyerupai perahu atau kola-kola.

Prosesi arak-arakan depito dutu (antar mahar) dari yiladiya mempelai pria menuju rumah mempelai perempuan terbilang sangat meriah. Diiringi bunyi tetabuhan genderang adat dan rebana, rombongan pengantar mahar melantunkan lagu-lagu tradisional Gorontalo yang berisi sanjungan, himbauan, serta doa-doa keselamatan bagi calon pengantin dalam mengarungi bahtera hidup berumah tangga.

Mopotilandahu merupakan acara berikutnya sesudah depito dutu. Acara di rumah pengantian perempuan ini berlangsung pada malam hari menjelang akad nikah esok harinya. Inilah malam paling mendebarkan bagi kedua mempelai terutama pengantian pria. Pada malam mopotilandahu, meski cuma selintas, keduanya bisa saling mencuri pandang. Sesuai adat dan agama, sebelumnya mereka memang tak diijinkan bersua apalagi berdua-duaan.

Malam pertunangan ini diawali dengan khataman Al-Quran oleh calon mempelai perempuan. Kemudian, tibalah giliran mempelai pria bergantian dengan ayah atau walinya menari molapi saronde. Atraksi tarian ini dimulai dengan pukulan rebana bersahut-sahutan sebagai pengiring lagu Tulunani yang syair-syairnya dibuat dalam bahasa Arab. Isinya, kurang lebih, merupakan lantunan doa-doa keselamatan, kebahagiaan, dan sejenisnya.

Molapi saronde, secara bahasa, berarti memberikan (molapi) selendang (saronde) kepada orang yang harus melanjutkan tarian. Sementara filosofinya adalah molile huali. Selain untuk memperlihatkan kegagahan dan keterampilannya, bagi pengantin pria tarian ini juga merupakan sarana untuk mengintip kecantikan calon pendamping hidupnya. Itu sebabnya, ketika menari ia bergerak bebas ke mana-mana, termasuk mendekat ke kamar pengantin perempuan.

Dahulu seni tari karya Detupuluh, seorang seniman pada masa Sultan Amai menjadi penguasa di Kesultanan Gorontalo ini hanya dimainkan oleh para bujang dari kalangan bangsawan. Tetapi seturut jaman, batasan itu tampaknya mulai longgar. Meski begitu, molapi saronde tetap saja terasa romantis. (naskah dari berbagai sumber; foto dari pilarsulut.com)

Advertisements

One thought on “Seni Mengintip Pengantin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s