Wasiat Nelayan Patorani

patorani takalarWARISAN BUDAYA INDONESIA – Kurang apa Karaeng Polloe dan Daeng Rani? Menilik namanya, dua gadis bersaudara ini adalah pewaris darah biru para bangsawan Bugis. Soal rupa? Keduanya memenuhi bahkan melebihi syarat-syarat yang lazim dimiliki oleh para perempuan cantik pada umumnya. Singkat kata, bibit, bebet, dan bobot keduanya tak perlu diragukan lagi karena nilainya memang di atas rata-rata.

Meski begitu, asmara kedua dara ini selalu kandas di tengah jalan. Sebetulnya ada banyak pangeran tampan yang datang dari berbagai kerajaan yang berniat mempersuntingnya. Cuma, entah apa sebabnya, keduanya tidak juga menemukan pria idaman hati. Saking lamanya menantikan pasangan hidup yang ideal, akhirnya mereka didera rasa putas asa berkepanjangan. Karaeng Polloe dan Daeng Rani bahkan mengakhiri riwayat hidupnya dengan cara tak lazim.

Karaeng Polloe mengasingkan diri, lalu mewujud menjadi Karaeng Bontoa, sebuah daratan yang terletak di pinggir pantai. Sementara Daeng Rani menceburkan diri ke laut, kemudian menjelma berupa ikan tarawani (Bugis) atau tuing-tuing (Makassar). Seiring perjalanan waktu, Daeng Rani yang menua dipanggilnya Toa Rani (Nenek Rani). Melalui proses kebahasaan, sebutan itu kemudian menyederhana menjadi torani.

Ikan versi mitologi itu, dalam ranah ilmu perikanan moderen dikenal dengan ikan terbang (Hirundichthys oxycephalus). Ikan-ikan inilah yang sering dilihat oleh ribuan prajurit –mengutip Mattulada (1982) jumlahnya sekitar 9.500 orang– Kerajaan Galesong di tengah lautan, ketika mereka dipulangkan dari tanah Jawa ke Makassar, setelah gagal membantu pemberontakan Trunojoyo terhadap penguasa Mataram yang didukung pasukan VOC.

Ikan-ikan ini pula yang kelak mengubah jalan hidup beberapa tabbuluk itu. Setelah tak jadi tentara lagi, sebagian di antara mereka memang beralih profesi menjadi nelayan. Merekalah leluhur yang mewariskan pengetahuan sekaligus keterampilan perburuan torani terutama telurnya, kepada para patorani zaman kini yang banyak ditemukan di Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Sejak puluhan tahun lalu, menurut C.C. McKnight dalam The Voyage to Marege: Macassan Trepangers in Northern Australia, selain di perairan Sulawesi para patorani ini juga berburu ikan terbang di pulau-pulau sekitar Pulau Jawa, daerah kering di selatan Pulau Rote, bahkan sampai ke pantai Kimberly, Australia Barat. Berkat merekalah, Indonesia tercatat sebagai negara tertua di dunia yang mengekspor telur ikan terbang juga teripang.

Hebatnya, dari zaman ke zaman, cara patorani menangkap ikan nyaris tak berubah. Mereka meyakini laut dan isinya adalah makhluk Tuhan yang juga harus dimuliakan. Itu sebabnya mereka bepegang teguh pada erang passimombalang (pengetahuan pelayaran) serta erang pakboya-boya (pengetahuan organisasi usaha). Melalui ritual yang panjang, kearifan lokal itu diterapkan sejak masa persiapan, waktu melaut, dan saat mengelola hasil tangkapan.

Begitulah cara mantan tentara Galesong memanfaatkan kekayaan bahari. Meski nilai ekonominya sangat tinggi, para patorani tak diburu nafsu ketika berburu torani. Alih-alih memakai alat tangkap moderen atau bahan kimia misalnya, sampai sekarang mereka tetap menggunakan pakkaja dan balla-balla. Inilah contoh bersahaja cara memanfatkan kekayaan alam secara bertanggungjawab. (naskah dari berbagai sumber; foto dari dissosbudpartakalar.blogspot.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s