Pacuan Kerbau Makepung

makepung jembrana baliWARISAN BUDAYA INDONESIA – Tiga ratus empat puluh pasangan itu benar-benar sedang mencari perhatian. Buktinya, tak seperti hari-hari biasanya masing-masing tampak berdandan habis-habisan. Setidaknya wajahnya terlihat cerah merekah. Lalu asesoris warna-warni yang mengkilap makin menegaskan kemenorannya. Bau aroma persaingan untuk saling mengalahkan memang tercium jelas di antara pasangan itu.

Demi menjadi pemenang, selain berdandan, tiap pasangan juga sudah mempersiapkan mental dan fisik secara apik. Supaya tampil prima, beberapa di antara mereka membiasakan diri mandi air hangat saban pagi. Sesudahnya, untuk melemaskan otot-otot, ada yang biasa berolahraga ringan, dipijat, atau keduanya. Sebagai pelengkap, mereka juga rajin minum madu, makan telur, plus suplemen lainnya. Rutinitas ini dijalani tiap hari, sepanjang tahun.

Mereka memang pasangan istimewa. Sementara yang lainnya sering bekerja membajak sawah atau menarik gerobak penuh bawaan, pekerjaan para pasangan itu adalah saling bertarung dalam acara makepung atau lomba balap cepat kerbau ala Jembrana Bali. Pada ajang Makepung Jembrana Cup 2014 misalnya, kerbau-kerbau pilihan dari blok Ijo Gading Timur berhasil mengalahkan rivalnya dari blok Ijo Gading Barat.

Sebermula pacuan kerbau makepung adalah aktivitas rutin petani Jembrana menjelang tibanya musim tanam padi. Dengan bergotong-royong, mereka ramai-ramai turun ke sawah mengolah tanah. Untuk meringankan pekerjaan, sesuai kebutuhan, mereka menggunakan sejumlah bajak lampit slau yang ditarik sepasang kerbau. Dalam proses membajak, genta gerondongan yang dikalungkan di leher kerbau bergoyang kian kemari sambil mengeluarkan bebunyian.

Dalam proses membajak itu pula, untuk mengusir penat, sesama sais atau para penarik bajak saling mempercepat laju kerbaunya. Kegiatan sambil lalu ini, mulai tahun 1930-an, kemudian berkembang menjadi atraksi yang dilombakan. Bak prajurit kerajaan, mereka mengenakan destar, selendang, selempot, juga sarung poleng hitam putih. Di pinggang para sais ini juga terselip sebilah pedang Bali.

Tak ketinggalan, bajaknya juga dipercantik dengan berokan atau bendera kecil warna warni dan berisi lukisan tokoh-tokoh pewayangan seperti Hanoman, Bima, Ngada, Menda, Gatot Kaca, Legeni dan lain-lain. Sudah tentu, kerbaunya juga didandani sedemikian rupa. Di bagian mukanya dipakaikan rumbing, sejenis mahkota berukir yang terbuat dari kulit sapi. Sementara tanduknya dibungkus kain berwarna.

Sesuai perkembangan, pada 1960 dibentuklah Sekaa Makepung yang mengorganisir tradisi makepung. Lintasan balap yang semula berupa lumpur sawah, dipindahkan ke jalan-jalan di sekitar persawahan. Lalu, pesertanya dibagi menjadi dua kelompok besar: Ijo Gading Timur dan Ijo Gading Barat. Sekadar diketahui Ijo Gading adalah nama sungai yang membelah Kota Negara, Ibu Kota Kabupaten Jembrana.

Meski makepung sudah dikelola secara profesional, tetapi esensinya tak lekang dimakan zaman. Walaupun kedua kubu menginginkan kerbau-kerbaunya menjadi juara, tetapi keguyuban tetap dinomorsatukan. Hadiah uang puluhan juta rupiah yang diperoleh blok Ijo Gading Timur pada perhelatan Makepung Jembrana Cup 2014 misalnya, separuhnya diberikan kepada kubu Ijo Gading Barat. Makepung memang cermin kegotongroyongan khas Jembrana, Bali. (naskah dari berbagai sumber; foto dari rri.co.id)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s