Genderang Perang Sasak

Gendang Beleq Suku SasakWARISAN BUDAYA INDONESIA – Mungkin cuma orang Sasak yang bisa mengenali jenis kelamin kendang atau gendang. Yang laki-laki namanya gendang mama, sedangkan yang perempuan sebutannya gendang nina. Bidang pukul gendang laki-laki menggunakan kulit kambing, sapi atau kerbau jantan, sementara gendang perempuan memakai kulit kambing, sapi, atau kerbau betina.

Menilik wujudnya, kedua alat musik dari tabung kayu itu sebetulnya nyaris sama. Tapi, jika ditabuh, gendang mama bunyinya jauh lebih nyaring. Meski begitu tak ada yang lebih istimewa di antara keduanya. Galibnya manusia, kedua gendang ini ibarat sepasang lawan jenis yang saling melengkapi. Keduanya adalah instrumen utama kesenian tradisional Gendang Beleq, merujuk pada bentuk gendang mama dan gendang nina yang berukuran jumbo alias beleq.

Semula perlengkapan kesenian yang memadukan musik dan tari ini sederhana saja, cuma sebuah jidur atau bedug, gong dan suling. Menyusul penguasaan Kerajaan Klungkung dan Karangasem dari Bali atas Lombok, menukil Alvons Van Deer Kraan dalam Lombok, Conquest, Colonization and Underdevelopment 1870-1940, seni Gendang Beleq juga mendapat pengaruh kuat dari kesenian khas Pulau Dewata.

Tapi dalam perkembangannya, orang Sasak mengembalikan atraksi ini lebih bernuansa Islami. Jumlah penampil atau sekehe yang dibatasi 17 orang misalnya, adalah simbol dari bilangan rakat ibadah shalat yang didirikan setiap muslim saban hari. Dalam praktiknya aturan itu memang bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Pada 2005 contohnya, Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatat rekor nasional pertunjukan Gendang Beleq dengan jumlah sekehe terbanyak.

Saat itu, yang jadi penabuh gendang besar saja jumlahnya sampai 330 orang. Yang lainnya: 556 pemain reong (gong kecil), 2.474 pemain ceng-ceng (semacam simbal), 117 pemain rincik (simbal kecil), 89 pemain petuk, 468 pemain gong, dan 147 pemain suling. Belum lagi jumlah orang yang membawa bendera atau lelontok yang biasanya berwarna merah dan kuning. Rekor MURI ini masih bertahan sampai sejauh ini.

Tampaknya fungsinya juga makin meluas. Dahulu kesenian ini adalah bagian dari ritual untuk menyemangati para prajurit yang hendak atau baru pulang berkalang tanah dari medan perang. Mengutip Terry Miller dalam The Garland Handbook of Southeast Asian Music, Gendang Beleq juga biasa dipertontonkan pada upacara pernikahan (merariq), potong rambut bayi (ngurisang), atau khitanan (ngitanang). Bisa juga sekadar untuk hiburan atau pariwasata.

Meski demikian, perubahan-perubahan itu sama sekali tak menghilangkan identitas aslinya. Kostum para pemain seperti sapo (ikat kepala), bebet (kain pelapis pinggang) dan dodot (ikat pinggang) misalnya, dari jaman ke jaman selalu dipertahankan. Lainnya, sampai sekarangpun, rupanya masih ada yang mensakralkan perlengkapan seni Gendang Beleq. Jika maliq ini dilanggar, mereka yakin tulah manuh atau akibat buruk akan segera tiba.

Memang ada banyak makna yang dapat ditafsirkan dari kesenian ini. Meminjam konsep Benedict Anderson dalam Imagined Communities, wujud fisik dan irama Gendang Beleq sejatinya adalah cermin dari konsep nilai suku Sasak. Beda nama dan jenis kelamin “Genderang Perang” ini juga bagian dari imaji mereka terhadap lingkungannya. (naskah dari berbagai sumber; foto dari balifornian.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s