Tabir Tenun Tanimbar

tenun ikat tanimbarWARISAN BUDAYA INDONESIA – Tahuri sudah mulai ditiup. Tifa sudah mulai dipukul. Lengkingan suara yang berasal dari cangkang siput dan hentakan bunyi dari tabung kayu itu, sahut-sahutan membuka sebuah prosesi adat yang digelar di Saumlaki, Maluku Tenggara Barat (MTB). Saat itu, tepatnya 5 November 2010, Wakil Presiden Republik Indonesia Boediono mendapat gelar: Mel Ratan Ken Tnebar Barataman.

Mel Ratan berarti bangsawan yang luhur juga mulia. Sementara Ken adalah orang yang dipertuankan. Lalu, Tnebar merujuk pada Kepulauan Tanimbar atau bisa juga berarti orang yang rendah hati. Sedangkan Barataman adalah tetua atau bapaknya orang MTB yang datang dari wilayah barat. Jadi makna dari Mel Ratan Ken Tnebar Barataman adalah, “Bangsawan tertinggi yang datang dari barat dan dipertuankan di Kepulauan Tanimbar Kabupaten MTB”.

Layaknya seorang bangsawan, ketika itu Boediono dipakaikan busana adat khas Tanimbar mulai baju, ikat pinggang, sampai tutup kepala. Kecuali tongkat kayu kadjare berhias motif bunga anggrek atau lelemuku pada bagian kepalanya, semua pakaian kebesaran yang dikenakan oleh Mel Ratan Ken Tnebar Barataman dibuat dari tais pet atau kain tenun. Masing-masing busana tentu punya makna atau perlambang khusus sesuai dengan sosok pemakainya.

Bajunya, misalnya, yang terbuat dari kain tenun berwarna dasar hitam mengandung makna religius dan sakral. Sedangkan ikat pinggangnya, kain tenun warna merah bersemu hitam dan putih, melambangkan kesiapan untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab sekaligus simbol persaudaraan atau pemersatu. Sementara topinya, kain tenun warna merah berhiaskan burung cenderawasih, adalah tanda kehormatan, kewibawaan, kekuasaan, dan kepemimpinan.

Kain tenun yang dikenakan Boediono baru satu contoh, soalnya tenun Tanimbar sangat banyak jenis dan variasinya. Dalam soal hiasan contohnya, Sarah S. Kauhaty dalam Kain Tenun Sebagai Pengetahuan Tradisional Masyarakat Hukum Adat Maluku, mencatat terdapat 21 jenis motif hias. Sementara W. Pattinama dalam Tenun Tradisional Tanimbar di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, melaporkan 41 ragam hias dengan arti yang bermacam-macam.

Beberapa di antaranya adalah ragam hias pohon, manusia, ikan, katkatan (alat tenun), vatvedan (penyumbat), bunga-bunga, sair sikaras (bendera bergerigi), siaha (anjing), kembang jambangan dan niri (lebah). Hiasan lainnya adalah abo (perahu), tamar akar (ruas bambu), wulan lihir (bulan sabit), fangat (ular cincin), kembang mayang, iwar ihin (kenari), ngarngar wulan (katak), kilun loan koa (bunga luangl), sula (laor), serta kilun eet (lipan).

Boleh jadi kekayaan jenis dan motif hias tais pet ini berkaitan dengan sejarah panjang permukiman wilayah Tanimbar. Dahulu banyak orang terdampar di wilayah kepulauan tak berpenghuni ini. Mereka datang dari Halmahera, Ambon, Seram, Banda, Kai, Aru, Bugis, Makassar juga Buton. Sebab itulah gugusan pulau kosong itu lalu dinamai Tanempar, Tanebar, juga Tnebar sebelum populer menjadi Tanimbar yang memiliki arti sama yaitu terdampar.

Para pendatang itu lalu beranak-pinak mengembangkan keturunannya. Karena penduduk asli Tanimbar sampai kini belum lagi diketahui, mungkin saja, orang-orang terdampar itu pula yang mengembangkan tradisi menenun kain. Keterampilan itu makin terasah, sejak Tanimbar menjadi bagian penting dari rute perdagangan Jalur Sutera. Sungguh tabir tenun Tanimbar yang sohor sampai mancanegara ini masih perlu ditelusuri lebih jauh. Ayo kita mulai sama-sama! (naskah dari berbagai sumber; foto dari pinterest.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s