Wahana Menuju Matahari

kidnesiacomWARISAN BUDAYA INDONESIA – Enam hari sudah, layang-layang itu mengangkasa. Tinggal sehari lagi, atau tepat pada hari ketujuh talinya segera diputus supaya bisa menuju langit tertinggi. Laksana merpati, layang-layang itu membawa pesan bahwa si empunya adalah orang baik hati dan sangat berbakti pada Yang Maha Kuasa. Pemilik layang-layang juga memohon, kiranya hidupnya dilimpahi keberuntungan dan matinya dibebaskan dari siksaan.

Begitulah, dahulu kala, salah satu cara orang Muna di Sulawesi Tenggara menghaturkan puja-puji pada pencipta jagat raya dan seisinya. Mereka meyakini, Tuhan yang menjadi asal-muasal dari segala kehidupan adalah api yang menyala-nyala yang bersumber dari matahari. Demi menjumpainya, mengingat tempatnya yang sangat jauh, orang Muna kemudian menciptakan sebuah media yang bisa menerbangkan semua asa dan doa mereka.

Untuk membuat satu media itu, sedikitnya dibutuhkan 100 lembar daun ubi hutan (kolope). Seterusnya, daun-daun kolope yang sudah kering dan kedap air dijahit satu sama lain menggunakan lidi (lio) hingga menyerupai kertas. Lembaran daun ubi ini, kemudian dipasangkan pada rangka bambu (patu) sampai menjadi layang-layang. Untuk menerbangkannya, digunakan tali (ghurame) berupa pilinan serat-serat daun nenas (nanasi).

Keterampilan membuat kaghati kolope atau layang-layang dari daun ubi hutan ini ditaksir sudah dikerjakan oleh nenek moyang orang Muna sekitar 4000 tahun yang lalu. Dugaan yang disampaikan oleh seorang Jerman bernama Wolfgang Bick ini sekaligus menggugurkan pendapat bahwa layang-layang tertua ditemukan di China, sekitar 2500 tahun yang lampau. Tentu Bick tak asal bicara, sebab simpulannya didasari fakta-fakta lapangan yang ditemukannya sendiri.

Pada 1997 lalu, seusai menyaksikan kaghati menjuarai festival layang-layang di Spanyol, ia berangkat menuju Indonesia. Consultant of Kite Aerial Photography Scientific Use of Kite Aerial Photography ini penasaran pada seluk-beluk layang-layang tersebut. Bagaimana tidak, meski sederhana, kaghati berhasil mengalahkan para pesaingnya yang datang dari berbagai negara. Walaupun bentuknya terkesan alakadarnya, kaghati benar-benar mencuri hati para juri.

Rasa ingin tahunya, menuntun Bick pada sebuah gua purba yang diperkirakan berusia 4000-10000 tahun di Desa Liang Kobori, Muna. Di tempat inilah ia menyaksikan sebuah lukisan berwarna merah, campuran dari tanah liat dan getah pohon, yang menempel di dinding gua Sugi Patani. Yang membuatnya takjub, objek lukisan itu menggambarkan seseorang tengah bermain layang-layang di dekat sebatang pohon kelapa.

Bick mempublikasikan temuannya itu pada sebuah majalah Jerman, The First Kiteman, pada 2003. Ia sekaligus menegaskan, bahwa kaghati adalah layang-layang tertua yang pernah dibuat umat manusia. Sampai saat ini, pendapat Bick memang belum dapat diterima semua kalangan. Terbukti masih banyak juga yang meyakini, layang-layang asal China yang dibuat dari parasut dan kerangka aluminium adalah yang pertama di dunia.

Soal ini, baiknya ditunggu saja kajian-kajian berikutnya. Yang sudah nyata, kaghati kini sudah menjadi koleksi di Museum Jerman juga Italia. Orang Muna, sampai sekarang, juga masih memainkan wahana menuju matahari ini. Bedanya, setelah agama Islam masuk ke Muna, tradisi menerbangkan kaghati sekadar sebuah hiburan yang mengasyikkan selama tujuh hari tujuh malam.(naskah dari berbagai sumber; foto dari kidnesia.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s