Pengobatan Ala Dayak

belianbawo220WARISAN BUDAYA INDONESIA – Apa gerangan yang terjadi pada seseorang yang mengalami kematian? Menurut kayakinan orang Dayak, kedua beruwa orang itu sudah pergi meninggalkan jasadnya. Jiwa yang pertama atau mata kanan melakukan perjalanan jauh, rumit dan berbahaya ke Apo Kesio atau dunia roh. Sedangkan jiwa yang kedua atau mata kiri, pindah ke tubuh beberapa binatang.

Jika cuma salah satu beruwa yang lepas dari raga? Bisa saja orang itu akan menemui mimpi buruk, menjumpai kenahasan, atau menderita penyakit fisik tertentu. Sekiranya jiwa yang berkelana ini benar-benar tak kunjung pulang, kematian juga yang menjadi ujung ceritanya. Tapi, supaya riwayat hidup manusia tak cepat berakhir, sekurangnya menunda datangnya ajal, orang Dayak punya cara untuk memulangkan salah satu jiwa yang mengembara itu.

Pasti tidak mudah pekerjaan ini. Tentu tidak sembarang orang pula yang mampu melakukannya. Dalam khazanah warisan budaya Dayak, hanya para Dayung atau Pemeliatn-lah yang dapat menunaikan tugas ini. Dengan bantuan para roh, mereka bisa menangkap, membebaskan, lalu mengembalikan beruwa yang hilang dengan cara meniupkannya ke ubun-ubun seseorang yang sedang sakit, misalnya. Begitulah, cerita singkat prosesi Belian Bawo.

Sabab-musabab sakit sendiri, sesungguhnya bukan hanya lantaran berkelananya salah satu jiwa. Tapi bisa juga karena kemasukan roh-roh jahat, atau adanya gangguan benda-benda gaib. Oleh karenanya, yang diikhtiarkan dalam Belian Bawo, mungkin saja demi mengusir para roh jahat atau menghilangkan aneka barang tidak kasat mata tersebut. Prinsipnya, lain sebabnya lain juga penanganannya. Proses diagnosa atau nyenteu menjadi sangat penting dalam kaitan ini.

Sewaktu melakukan pengobatan, sang Pemeliatn bergerak-gerak bak penari mengikuti bunyi gendang dan kangkunang atau gong kecil. Mulanya bebunyian alat-alat musik itu datar-datar saja, tapi pada puncaknya ritmenya sedemikian keras. Gerakan sang tabib, awalnya juga begitu gemulai, hingga akhirnya berputar-putar liar sampai mengalami trance. Selama proses ini mulutnya seperti tak berhenti komat-kamit merapalkan mantra-mantra tertentu.

Sejak penyakit seseorang berhasil dideteksi dan jalan kesembuhannya sudah didapatkan, ritual yang kadang-kadang berlangsung berhari-hari ini pun akan berakhir. Secara perlahan bunyi gong dan gendang akan menghilang. Pemimpin upacara pun tak lagi menari-nari atau menghentakkan kaki-kakinya. Kini tinggal lagi giliran si pasien melakukan pantangan atau mengerjakan pesan-pesan sang Belian, sebutan lain pemimpin ritual Belian Bawo.

Misalnya, pasca pengobatan si pasien dilarang memakan terung, keladi, rebung, cabai, asam, garam, babi, atau hewan melata. Pokoknnya beda penyakitnya, beda juga larangannya. Selain itu, ia juga dilarang ke luar rumah, harus menjaga suasana rumah agar tetap sepi, dan tidak diperkenankan menerima tamu. Yang paling penting, jangan pernah melanggar semua pantangan itu. Jika tetap nekat, bisa-bisa penyakitnya akan kambuh lagi dan lebih sulit disembuhkan.

Boleh dibilang ritual Belian Bawo memang dahsyat. Tradisi yang diperkirakan sudah dikenal sejak tahun 1500-an ini, sungguh bukan persoalan mistis-religius semata. “Cara pengobatan ini merupakan prestasi yang luar biasa,” demikian disampaikan Anton W. Nieuwenhuis, satu ketika. “Kita pantas mengaguminya, karena sejumlah pantangan itu sesuai dengan kaidah pengetahuan kedokteran,” dokter medis asal Belanda ini menegaskan. (teks dari berbagai sumber; foto kampungmuhurbelusuh.wordpress.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s