Replika Semesta Raya

WARISAN BUDAYA INDONESIA – Hebat betul nenek moyang kita. Mereka meninggalkan sejumlah warisan budaya yang tidak ada padanannya. Candi Borobudur di Magelang Jawa Tengah, misalnya, adalah bangunan pemujaan umat Buddha dengan teknik arsitektur sangat spektakuler. Monumen enam teras berbentuk bujur sangkar ini, memiliki 504 buah arca dan 2.762 panel relief. Versi UNESCO, cuma Borobudur yang punya relief sebanyak dan selengkap itu.

Sampai kini, bisa dipastikan, belum habis kekaguman dunia pada kemegahan Borobudur. Dan decak kagum itu makin menjadi-jadi ketika dimaklumi, ternyata masih ada bangunan lain yang jauh lebih monumental. Setidaknya karena bangunan kuno ini ternyata 20 kali lebih luas ketimbang Borobudur, dua kali lebih luas dibanding kompleks Candi Angkor Wat di Kamboja, sekaligus kawasan candi terluas di seluruh Asia Tenggara.

SC. Crooke adalah orang pertama yang melaporkan penemuan kompleks candi ini. Pada 1824 lalu, tentara berpangkat letnan asal Inggris itu tengah memetakan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer. Tak sengaja, ia dan timnya menemukan sekelompok bangunan kuno terbuat dari batu bata di tepian Sungai Batanghari. Rupanya, inilah kompleks Candi Muaro Jambi yang diperkirakan berasal dari abad ke-7 Masehi.

Di komplek seluas sebelas kilometer persegi ini setidaknya terdapat 82 candi, yang umumnya berkelompok serta memiliki tembok dan parit keliling. Bangunan yang berada di dalam tembok dibangun lebih tinggi dari tanah yang berada di luar tembok atau parit. Secara kosmologis, pola tata letak seperti itu menjelaskan bahwa candi-candi di Muaro Jambi tak lain adalah maket jagad raya.

Bangunan candi di atas tanah yang lebih tinggi misalnya, adalah replikasi dari Gunung Meru, gunung suci tempat bersemayamnya para dewa. Lalu, pagar kelilingnya diumpamakan sebagai rangkaian pegunungan atau cakrawala yang mengitari alam semesta. Kemudian, parit kelilingnya diamsalkan sebagai lautan atau samudra. Sederhana kata, kawasan Muaro Jambi adalah tempat suci dan disucikan.

Merujuk pada hasil penelitian yang telah dilakukan, antara lain oleh Pusat Arkeologi Nasional sejak tahun 1978 hingga sekarang, situs kuno ini memang diduga sebagai kompleks vihara Buddha, lengkap dengan asrama para bhiksu, bangunan sekolah, pemondokan para siswa, serta bangunan untuk keperluan upacara. Kompleks Candi Muaro Jambi juga merupakan tempat ziarah umat Buddha dari berbagai penjuru negeri.

Fakta ini mengingatkan pada kompleks vihara Nalanda di India. Bedanya, jika Candi Muaro Jambi berada di tepi sungai, vihara Nalanda terletak di sebuah dataran luas yang jauh dari sungai. Sehingga di dalam kompleks khususnya di dalam asrama terdapat sumur-sumur sebagai sumber air bersih untuk keperluan sehari-hari. Berseberangan dengan asrama berjajar bangunan peribadatan yang disebut caitya.

Diperkirakan, aktivitas yang berlangsung di Candi Muaro Jambi berabad-abad silam juga serupa dengan yang terjadi di Nalanda. Dahulu, di Candi Muaro Jambi ada banyak siswa yang menimba ilmu pada para bikhsu. Di tempat ini ada banyak juga peziarah yang datang dan melantunkan puja-puji. Cerita masa lalu di pusat replika semesta raya ini, sungguh mengundang decak kagum penduduk bumi sampai sekarang. (teks dan foto dari berbagai sumber).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s