Senjata Para Dewa

WARISAN BUDAYA INDONESIA – Bukan cuma sekali ini Mpu Windu Supo dipanggil menghadap raja. Bukan hanya sekali ini juga ia ditugaskan membuat perkakas logam. Sebagai pandai besi, kemampuannya memang sangat sohor di seantero kerajaan. Tapi perintah Prabu Kuda Lalean, penguasa Kerajaan Padjadjaran Makukuhan, membuatnya sangat gusar. Ia harus berpikir keras bagaimana caranya menciptakan senjata seperti yang diinginkan oleh Sang Prabu.

Harap maklum, kali ini pesanan raja memang tidak biasa. Dalam tapa bratanya, Kuda Lalean ingin memiliki senjata yang mirip dengan Pula Djawa Dwipa. Meskipun tidak mudah, Mpu Windu Supo tidak menyerah. Ia lalu melakukan prosesi khusus, bermeditasi untuk membaca alam pikiran Sang Prabu. Perlahan-lahan, dalam benaknya, mewujudlah purwa rupa senjata tersebut. Dengan segenap kemahirannya, akhirnya ia berhasil memenuhi titah raja.

Inspirasinya diadopsi dari kujang yang sebelumnya adalah senjata para petani. Tentang hal ini, simak misalnya terjemahan yang dibeberkan dalam naskah kuno Sanghyang Siksakanda Ng Karesian pada pupuh XVII. “Segala macam hasil tempaan, ada tiga macam yang berbeda. Senjata Sang Prabu ialah: pedang, pecut, pamuk, golok, peso teundeut, keris. Raksasa yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk membunuh.

Senjata orang tani ialah: kujang, baliung, patik, kored, pisau sadap. Detya yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk mengambil apa yang dapat dikecap dan diminum. Senjata sang pendeta ialah: kala katri, peso raut, peso dongdang, pangot, pakisi. Danawa yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk mengerat segala sesuatu, Itulah ketiga jenis senjata yang berbeda pada Sang Prabu, pada petani, dan pada pendeta.”

Mulanya kujang memang perkakas rakyat kebanyakan. Tapi sejak dimodifikasi Mpu Windu Supo, kujang berubah sakral. Wujud fisiknya yang menyerupai Djawa Dwipa, menggambarkan cita-cita Sang Prabu untuk menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di tanah Djawa ke dalam pangkuan Padjadjaran Makukuhan. Sementara tiga lubang pada bilahnya merujuk pada Brahma, Vishnu, dan Shiva atau konsep Trinitas dalam Hindu yang menjadi agama kerajaan.

Menurut cerita, istilah kujang berasal dari kata kudihyang. Dalam bahasa Sunda Kuno, kudi adalah senjata berkekuatan gaib, sedangkan hyang searti dengan dewa. Jadi, secara umum, kujang yang mulai dibuat sekitar abad ke-8 ini, merupakan pusaka berbentuk pisau yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa. Selain itu, kujang juga perlambang ketajaman dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran.

Pada masa pengaruh Islam, kujang mengalami reka bentuk menyerupai huruf syin dalam bahasa Arab, serta lima lubang sebagai simbol inti ajaran Islam yang menggantikan tiga lubang lambang Trimurti. Hal ini sejalan dengan keinginan Prabu Kian Santang untuk meng-Islam-kan rakyat Pasundan. Syin sendiri adalah huruf pertama dalam kalimah syahadat, yakni ikrar setiap muslim yang mengimani akan adanya Allah Yang Maha Esa dan Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya.

Meskipun bentuknya sudah berubah dan jamannya telah berganti, kujang tetap mendapat tempat khusus di kalangan masyarakat Sunda. Menukil pendapat budayawan Anis Djatisunda, fungsinya bisa sebagai Kujang Pusaka (lambang keagungan dan perlindungan), Kujang Pakarang (untuk berperang), Kujang Pangarak (alat upacara) atau Kujang Pamangkas (alat bertani). Pendek kata, sampai sekarang, senjata para dewa ini tetap menjadi ciri identitas masyarakat Jawa Barat. (teks dan foto dari berbagai sumber)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s