Tuah Sebilah Rencong

WARISAN BUDAYA INDONESIA – Seekor burung raksasa, pada sebuah masa, membuat bumi Aceh menjadi gelisah. Semua jenis tumbuh-tumbuhan, segala rupa buah-buahan, juga seluruh hewan peliharaan dirusaknya. Demi menghentikan malapetaka itu, berbagai cara dilakukan untuk membunuh burung sejenis rajawali tersebut. Sayangnya geureuda tetap bergeming, ulahnya kian hari makin menjadi-jadi. Masyarakat setempat dibuat pusing tujuh keliling karenanya.

Rupanya heboh wabah itu sampai juga ke pusat kerajaan. Dan sang raja yang berkuasa kala itu, segera mengambil tindakan. Ia menitahkan seorang alim di bidang agama yang juga pengrajin besi untuk menciptakan senjata yang bisa mematikan burung tersebut. Setelah berpuasa beberapa lama, bersembahyang beberapa kali, dan berdoa tak henti-henti, utoh beuso itu lalu menempa besi pilihan dicampur dengan beberapa logam lain. Maka jadilah sebilah rencong.

Begitulah versi legenda yang mengisahkan asal mula senjata tradisional Aceh ini. Versi lain menyebutkan, rencong sudah digunakan oleh Sultan Ali Mugayatsyah, pendiri Kerajaan Aceh. Tetapi sumber lainnya menceritakan, rencong baru dikenal pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Raja Aceh ke-13. Mana yang paling valid? Ihwal ini silahkan ditelusuri lebih lanjut. Yang pasti rencong dan Aceh ibarat dua sisi dari sekeping mata uang.

Dahulu, menurut riwayat, rencong punya beberapa tingkatan sesuai dengan kedudukan sosial para pemakainya. Pertama, rencong yang digunakan oleh para raja atau sultan dan para pembesar lainnya. Rencong ini terbuat dari emas murni, dan sarungnya dari gading gajah. Yang kedua, rencong yang dipakai oleh rakyat kebanyakan. Biasanya dibuat dari kuningan atau besi putih, sementara sarungnya dari tanduk kerbau atau kayu.

Apapun tingkatannya, seturut namanya, bentuk fisik rencong itu memang meruncing di bagian ujungnya. Senjata ini tidak memiliki bilah tajam seperti golok atau pedang. Itu sebabnya rencong dikategorikan sebagai belati mengingat fungsi utamanya adalah sebagai alat tikam. Jika diamati mulai gagang sampai ujungnya, bentuk rencong juga merupakan rangkaian dari aksara Arab: ba, sin, mim, lam, ha. Jadi rencong itu sejatinya adalah salinan kaligrafis dari lafadz bismillah.

Fakta ini, sedikitnya menyiratkan pesan bahwa rencong bukanlah senjata sembarangan yang bisa dipakai sesuka hati. Rencong hanya digunakan untuk keperluan mempertahankan diri dari serangan musuh dan berperang dijalan Allah. Dengan spirit itulah rakyat Aceh membuat kocar-kacir para penjajah dari Tanah Rencong. Orang Belanda sendiri tak habis pikir, mengapa orang Aceh sedemikian beraninya?

Bayangkan saja, dalam sejumlah peperangan, hanya bermodalkan rencong yang diselipkan dalam selimut atau bajunya, para pejuang Aceh melakukan penyerangan terhadap orang-orang Belanda bahkan pada tangsi-tangsi Belanda sekalipun. Perbuatan itu, kata orang Belanda, mustahil dilakukan oleh orang yang waras. Makanya mereka menyebutnya, gekke Atjehsche alias orang Aceh sudah gila.

Benarkah ketika itu orang Aceh pungo? Menurut R.H. Kern, juga orang Belanda, apa yang dilakukan rakyat Aceh itu adalah perasaan tidak puas akibat mereka telah ditindas oleh Belanda. Agaknya mesti ditambahi sebab lain, sebagai muslim orang Aceh mengimani sepenuh jiwa raganya bahwa tiada yang patut ditakuti kecuali Allah SWT, seperti disiratkan dalam lafadz bismillah dalam sebilah rencong. (teks dan foto dari berbagi sumber)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s