Rendang Selayang Pandang

WARISAN BUDAYA INDONESIA – Ternyata rendang bukan hanya urusan lidah, juga bukan cuma perkara perut. Kekayaan kuliner khas nusantara ini, sesungguhnya merupakan hasil dari serangkaian proses panjang dan berkesinambungan yang melibatkan daya cipta, daya rasa, dan daya karsa masyarakat Minangkabau. Rendang ibarat potongan puzzle yang menggenapi khazanah kebudayaan Sumatera Barat.

Proses panjang itu, setidaknya bisa dimulai dari abad ke-16 ketika orang-orang Minang meneroka di pantai timur Sumatera hingga Malaka, Malaysia, dan Singapura. Kegiatan membuka kampung baru itu berbilang bulan lamanya. Itu sebabnya, dalam masa perantauannya, mereka harus membawa bekal makanan yang awet tapi tetap maknyus rasanya. Salah satunya adalah rendang yang berbahan pokok daging itu. Bisa sapi, kerbau, kambing, atau domba.

Secara semantik, rendang atau randang berasal dari kata marandang atau proses memasak dengan cara diaduk terus-terus sampai santan kelapanya mengering. “Marandang itu artinya menihilkan air menjadi nol. Makanya prosesnya dimulai dari membuat gulai, sebelum kemudian menjadi rendang,” ujar Reno Andam Suri, penulis buku Rendang Traveller. Sederhananya, marandang adalah teknik pengawetan makanan ala ranah Minang.

Meski terdengar mudah, dalam praktiknya pekerjaan itu tak bisa disebut gampang. Untuk menghasilkan cita rasa yang lezat, dalam soal ini berlaku filosofi: kurang kacau cik kambingan tak lampau kacau bapantingan. Jadi, bila kurang mengaduk-aduknya (kacau) akan pecah santannya, tetapi kalau terlalu besar apinya (tak lampau) akan berlompatan minyaknya (kacau bapantingan). Maka teknik mengaduk dan suhu api harus diperhatikan dengan cermat.

Inilah agaknya rahasia di balik kelezatan rendang yang banyak disebut dalam beberapa karya sastra Melayu klasik, seperti dijumpai dalam Hikayat Amir Hamzah. Inilah pula tampaknya salah satu teka-teki mengapa rendang yang dalam sumber-sumber tertulis Belanda disebut sebagai ‘makanan yang dihitamkan dan dihanguskan’ ini menjadi sangat terkenal sejagat raya. Beberapa waktu lalu rendang memang dinobatkan sebagai makanan terenak sedunia versi situs CNN.

Tapi, sekali lagi, rendang ternyata bukan sekadar makanan, tapi sekaligus simbol dari budaya musyawarah dan mufakat. Keempat empat bahan utama pembuatan rendang adalah perlambang keutuhan masyarakat Minang. Dagiang (daging) sebagai bahan utama, mewakili niniak mamak (tetua adat) dan bundo kanduang (pepimpin keluarga) yang akan memberikan kemakmuran pada anak kemenakan (anak saudara kandung) dan anak pisang (anak keturunan laki-laki).

Sementara karambia (kelapa) adalah personifikasi dari cadiak pandai (kaum intelektual) yang akan menjaga dan merekatkan kebersamaan antar individu juga antar kelompok dalam masyarakat. Adapun lado (cabai) melambangkan alim ulama yang tegas dalam mengajarkan syariat agama. Sedangkan para pemasak (bumbu), adalah simbol dari keseluruhan masyarakat Minangkabau.

Begitulah cerita sepotong rendang. Di balik makanan yang diilhami oleh masakan kari ini, ternyata ada rasa juga menyimpan makna. (teks dan foto dari berbagai sumber)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s